Pesangon Anggota DPRD Sumenep 1999-2004 Senilai Rp 1,9 M Masih Ngendon

FERI FERDIANSYAH/RM

GEDUNG RAKYAT: Gedung DPRD Sumenep di Jalan Trunojoyo. Anggota DPRD 1999-2004 diduga banyak belum mengembalikan uang pesangon.

Rata-Rata Kembalikan Rp 5 Juta, Hanya Ketua yang Lunas

Masih ingat dengan wajah-wajah anggota DPRD Sumenep periode 1999-2004? Meski mereka sudah dinyatakan purna tugas sejak Agustus 2004 lalu, namun hingga kini ada persoalan yang belum tuntas. Yakni, terkait pengembalian dana tunjangan purna tugas atau bisa disebut pesangon. Bagaimana perkembangannya?

FERY FERDIANSYAH, Sumenep

UNTUK diketahui, semua anggota DPRD periode 1999-2004 dipastikan menerima dana pesangon dari APBD. Besaran dananya sekitar Rp 49 juta per kepala. Sehingga, total anggaran yang harus dikeluarkan dari APBD mencapai Rp 2,2 miliar.

Pemberian dana pesangon untuk DPRD memang sempat menjadi kontroversi. Sebab, di Sumenep terdapat hal yang khusus. Dimana, secara kebetulan, pemberian dana tersebut telah diatur dengan payung hukum, yakni peraturan daerah (perda).

Sedangkan di beberapa daerah, dana pesangon tidak diatur. Sehingga, pemberian dana pesangon telah berujung ke meja hijau. Tak sedikit diantara mantan anggota dewan yang telah dibui terkait hal tersebut. Di Madura, DPRD Sampang periode 1999-2004 juga tersandung masalah ini. Kasusnya sedang ditangani kejari setempat.

Kasubag Hukum DPRD Sumenep Sukaryo saat dikonfirmasi soal dana pesangon anggota DPRD periode 1999-2004 mengatakan, pencairan dana tersebut memiliki landasan hukum berupa perda. Namun, lanjut Sukaryo,  belakangan BPK (Badan Pengawas Keuangan) memberi surat edaran kepada seluruh daerah untuk mengembalikan dana tersebut.

Sesuai dengan edaran BPK, dana pesangon itu harus ditarik kembali dan dimasukkan pada kas daerah. Namun, sifatnya edaran. Sedangkan perda mengacu kepada peraturan pemerintah. “Terkait masalah ini, pihak kami sedang meminta pendapat hukum dari Mahkamah Agung,” jelasnya.

Dengan belum jelasnya posisi dana pesangon, sejumlah anggota DPRD periode 1999-2004 terkesan mengambil sikap sendiri. Buktinya, berdasarkan data yang diterima koran ini, mereka bersikap ambigu.

Namun, mereka terkesan mengatur strategi. Buktinya, saat ini sebagian besar telah mengembalikan dana. Tapi, berdasarkan informasi yang diterima koran ini, besarannya hanya rata-rata Rp 5 juta. Padahal, seharusnya mereka mengembalikan Rp 49 juta.

Dari ke-45 anggota DPRD periode 1999-2004, hanya Ketua DPRD KH Abuya Busyro yang mengembalikan utuh. Praktis, dana yang terkumpul belum utuh Rp 2,2 miliar. Jika dihitung kasar, total dana yang belum dikembalikan mendekati Rp 1,9 miliar. Itu jika diasumsikan pengembalian rata-rata Rp 5 juta ditambah uang pengembalian utuh dari ketua DPRD.

Sukaryo yang dikonfirmasi terkait jumlah dana yang belum dikembalikan, mengaku tidak tahu menahu. Sebab, menurutnya, data keuangan ada pada bagian TU DPRD.

Sedangkan Kabag TU DPRD Sunarto tidak bisa memberikan data mengenai uang purna tugas tersebut. Dia mengatakan, hal itu merupakan wewenang Sekwan. Namun, dirinya mengakui jika uang purna tugas yang sudah dikembalikan hingga saat ini belum mencapai setengahnya.

“Dari semua dana yang ada, yang dikembalikan belum sampai 50 persen,” ungkapnya.

Saat koran ini mencoba menghubungi (plt) Sekwan Bambang Irianto, nomor GSM yang digunakan oleh Bambang tidak aktif. Akhirnya, koran ini menghubungi ke nomor CDMA miliknya (03171324xxx). Adapun kode daerah pada nomor tersebut menunjukkan wilayah Surabaya, yakni (031).

Maklum, yang bersangkutan sedang ada rapat di Surabaya. Pertama kali dihubungi, dirinya mengiyakan sebagai Bambang. Namun, setelah koran ini memperkenalkan diri dan menyampaikan maksudnya, dia mengatakan salah sambung.

“Oh.. maaf salah sambung. Ini dengan Carli. ucap lelaki yang berada di ujung telepon itu.

Untuk diketahui, menurut beberapa rekannya, kemarin Bambang memang sedang berada di Surabaya. Adapun nomor Bambang sendiri, diperoleh dari rekan satu kantornya.

Sementara itu, Ketua DPRD Sumenep KH Abuya Busyro Karim enggan berkomentar panjang. Ditemui di kediamannya, dia mengaku tidak bisa menyampaikan banyak hal. Alasannya, dia khawatir jika apa yang disampaikannya nanti dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertangung jawab.

“Saya tidak mau merusak suasana yang sedang kondusif. Sebab, saat ini masih suasana politis,” jawab Busyro

(Sabtu, 25 Juli 2009 14:49:18) RADAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: